Blokir Porno, David Vs Goliath?
April 1, 2008
Konten pornografi memang bisa diblokir menggunakan berbagai peranti
lunak, tetapi soal efektifitas itu lain soal. Siapa pun bisa mengunduh
dan memasang berlapis peranti lunak yang berfungsi memblok atau
menyaring konten pornografi dari internet, baik pada tingkat komputer
personal (PC), server pada warnet, hingga Internet Service Provider
(ISP). Tetapi sangatlah naif bila kita percaya bahwa konten pornografi
di internet dapat efektif dihalau dengan melakukan pemblokiran secara
teknologi.
Berdasarkan hasil riset yang dilansir TopTenReviews, setiap detiknya
lebih dari 28.000 orang mengakses pornografi di internet dengan total
pengeluaran mencapai lebih dari 3.000 dollar AS. Data tersebut juga
menyebutkan, setidaknya setiap detik ada 372 pengguna internet yang
mengetikkan kata kunci tertentu di situs pencari untuk mencari konten
pornografi.
Khusus untuk perilaku pengguna internet di Indonesia, Google Trends
memaparkan bahwa meskipun jumlah pengguna internet masih terkonsentrasi
di Ibu Kota Jakarta, namun Jakarta hanya menduduki posisi ke-5 kota
dengan jumlah pencari konten dewasa dengan memasukkan kata kunci yang
sangat umum, yaitu ?seks?. Setelah Jakarta disusul Bandung. Adapun
jawaranya adalah kota Semarang, kemudian Yogyakarta, Medan, dan
Surabaya.
Jika kita mencari dengan kata kunci ?sex? di Google, akan muncul
662.000.000 situs, 568.881 video, 157.000.000 gambar, dan 111.057.569
blog. Maka dapatlah terbayang bagaimana upaya untuk menyaring informasi
dari sekian banyak sumber tersebut. Apalagi jika harus memilah antara
informasi ?seks? yang layak untuk keperluan pendidikan, kesehatan, ilmu
bercinta, ataupun sekadar sebagai pemuas berahi belaka.
Bicara tentang ilmu bercinta, ketika penulis menggunakan ?kamasutra?
sebagai kata kunci pada Google Trends ternyata Indonesia berada pada
urutan ke-3 setelah Lituania dan India untuk kategori negara. Sementara
untuk kategori kota, Jakarta berada pada urutan ke-4 setelah Chennai,
Delhi, dan Mumbai yang semuanya di India.
Goliath
Industri pornografi bukanlah industri kacangan. Tahun 2006 saja,
gabungan penghasilan dari sejumlah perusahaan teknologi papan atas
semisal Microsoft, Google, Amazon, eBay, Yahoo! dan Apple, tak akan
mampu mengimbangi pendapatan dari bisnis pornografi dengan pemasukan
mencapai lebih dari 97 miliar dollar AS.
Dengan perputaran uang yang besar dan persaingan ketat, industri
pornografi kerap menjadi perintis pematangan sejumlah teknologi baru
yang kemudian diadopsi secara luas. Berbagai teknologi ini, menurut
penelitian terpisah oleh USA Today, Adult Video News dan
Nielsen/NetRatings adalah baik yang bersifat positif seperti video-audio
streaming, layanan berbayar video-on-demand, digital-rights management,
peranti lunak geo-location, konten tersegmentasi dan layanan konten
nirkabel melalui ponsel. Adapun teknologi yang cenderung bersifat
negatif, setidaknya bagi sebagian kalangan, adalah spam, iklan pop-ad,
dan cookies.
Wajar jika kita berpikir bagaimana agar teknologi yang lawas dan biasa
saja, seperti peranti lunak pemblokir konten pornografi, dapat
berhadapan dengan produsen pornografi yang notabene para jawara
penghasil teknologi konten masa depan. Ini ibarat David melawan Goliath!
Privasi
Berdasarkan sejumlah jajak dan studi yang dilakukan di Indonesia,
fasilitas e-mail adalah hal yang paling utama digunakan oleh konsumen
internet. Sayangnya, spam (e-mail sampah) menghantui aktivitas e-mail
siapa pun di mana pun. Penelitian yang dilakukan oleh Barracuda Networks
mengatakan bahwa sepanjang tahun 2007, dari total lalu lintas e-mail
yang tercatat, 95 persen adalah spam. Kemudian menurut Symantec, untuk
data per Februari 2008, 6 persen dari seluruh e-mail spam masuk dalam
kategori untuk ?dewasa? di atas 18 tahun.
Ini perlu menjadi pertimbangan pula bagaimana menyaring konten
pornografi, yang sengaja ataupun tidak, masuk langsung ke mailbox,
termasuk ke mailbox anak-anak dan para remaja. Pornografi lewat e-mail
lebih sulit pengidentifikasiannya (termasuk pemblokirannya) karena
sifatnya yang tidak terbuka seperti layaknya mengunjungi sebuah situs,
lebih privasi karena terantar langsung ke masing-masing individu, dan
sifatnya ada push-services. Belum lagi maraknya sejumlah layanan online
yang memang mengkhususkan diri dalam menyediakan konten pornografi via
e-mail.
Di layanan mailing list terkemuka semisal YahooGroups, dapat dijumpai
banyak komunitas ?dewasa? yang saling bertukar gambar porno. Tak kurang
dari 39.000 grup diskusi bertajuk ?seks? yang tergabung dalam
YahooGroups tersebut. Diskusi dan bertukar gambar porno tersebut
langsung dikirim dari dan ke e-mail para anggotanya.
Jika ingin konsisten menyaring pornografi di internet, maka YahooGroups
seharusnya masuk dalam daftar cekal. Masalahnya, begitu kita mencekal
YahooGroups, kita juga menutup akses ke ribuan diskusi positif yang ada
di dalamnya, baik itu diskusi teknologi, politik, kesehatan, lingkungan,
hingga keagamaan.
Orangtua
Untuk itulah jangan sampai kita kemudian terempas pada rasa aman semu,
mengatasi pornografi seakan bisa dilakukan (hanya) dengan teknologi yang
ada saat ini. Jika memang dirasa perlu, sebenarnya berbagai jenis
peranti lunak pemblokir konten pornografi pada komputer personal telah
tersedia di internet dengan kualitas andal, berfitur lengkap, dan
gratis. Salah satunya adalah K9 Web Protection (www.k9webprotection.com)
Harus diingat, justru orangtua dan guru memegang peran utama dan tak
akan tergantikan oleh berbagai jenis peranti lunak yang ada. Membuat
program edukasi agar orangtua dan guru tidak ?gaptek? (gagap teknologi)
sehingga mampu dan mau membimbing anak atau muridnya ketika menggunakan
internet akan jauh lebih ampuh ketimbang sekadar mengadakan proyek
pembuatan atau instalasi program pemblokir konten pornografi yang
efektifitasnya masih dapat diperdebatkan.
Sumber: Donny BU
Tags: David, Goliath, IT, pornografiRelated articles :
Ratings :



Posted in 
I trust Lord
Jesus Christ bless all my IT activities, and services to
Him.
:: Sitemap ::
content rss
Recent Comments