The Blossoming of Maximo Oliveros
December 13, 2007
The Blossoming of Maximo (not recommended).

Saya sudah menonton di JiFFest, tapi saya tidak menyukai dan tidak merekomendasikan kepada Anda. Yah namanya juga JiFFest film gratis, apa yang bisa diharap dari film gratis???
Tapi bila penasaran, ini reviewnya:
The Blossoming of Maximo Oliveros, sebuah film asal filipina keluaran tahun 2005 yang amat menarik dan disutradarai oleh Auraeus Solito ini sesungguhnya mengusung gambaran hidup kaum pinggiran yang berjuang di tengah kesulitan yang selalu menghimpit. Namun film ini menjadi terasa lebih segar dengan balutan kisah Maxi (diperankan oleh Nathan Lopez), seorang bocah laki-laki 12 tahun yang mengidentifikasikan dirinya sebagai perempuan, dan keluarganya yang ternyata berprofesi sebagai maling.
Walau begitu, nampaknya potret kehidupan Maxi dan keluarganya dipandang sudah lumrah bagi masyarakat kalangan sekitarnya yang ternyata juga hidup dalam kekurangan, dengan rumah-rumah jorok yang saling berhimpitan dan gang-gang sempit yang selalu ramai dengan anak ingusan berbaju kumal. Keluarga Maxi yang terdiri dari sang ayah dengan profesi samarannya sebagai penjual hape–, kakak pertamanya Boy, kakak keduanya Bog, dan Maxi sendiri (sang ibu telah almarhumah), tampak hidup bahagia dan bisa memahami keadaan dengan legowo. Walau hidup di tengah kondisi yang hiruk pikuk, toh mereka ternyata masih menikmati keindahan dan arti dari sebuah keluarga.
Sebagai anak bungsu, Maxi paling menaruh perhatian dan sibuk dengan aktivitas domestik; memasak, membersihkan rumah, ataupun mencuci pakaian saudara-saudaranya. Maxi melakukannya dengan senang hati, tanpa merasa keberatan, dan penuh rasa cinta. Namun rasa cinta terhadap keluarganya itu kemudian menjadi terbagi seiring dengan kehadiran Victor, sosok polisi ganteng yang pernah menyelamatkannya dari gangguan para berandal jalanan. Sejenak, Maxi merasakan dan menikmati romantisme hari-harinya bersama Victor. Namun ternyata Victor malah memanfaatkan keadaan tersebut untuk mengorek keterangan dari Maxi mengenai kasus pembunuhan yang sedang ia tangani.
Maxi dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Di satu sisi, keluarganya tidak menyukai kedekatan Maxi dengan polisi yang semakin mengubek-ubek kehidupan mereka. Namun disisi lain, Maxi pun tak ingin menjebloskan keluarganya di sel tahanan. Seiring dengan alur waktu berjalan, Maxi seolah telah mendapat jawaban, apa yang sebaiknya ia lakukan. Maxi yang belia dituntut untuk memahami cerita manusia yang ternyata memiliki karakter yang tumpang tindih, memaknai tiap sisi kehidupan yang ternyata tak melulu sepekat hitam atau seterang putih. Dengan latar belakang kehidupan yang demikian, Maxi justru lebih memahami situasi secara dewasa.
Film drama berdurasi 100 menit ini terasa tak begitu membosankan karena alur yang mudah diikuti dan dipahami. Meski banyak sekali potret yang teramat menyentuh, namun skenario yang dibuat terasa lebih realistis (tanpa ada kesan dibuat-buat atau hiperbola). Film ini menggambarkan dengan apik bagaimana dalam keluarga maling yang notabene dianggap sebagai laknat masyarakat ternyata masih ada kehangatan sebuah keluarga; Ayah yang memperhatikan anak-anaknya, kakak yang selalu melindungi adiknya –Betapa mereka tak pernah melewatkan acara makan bersama di meja makan yang sederhana! Betapa Bog adalah seorang kakak yang baik dan peduli pada perasaan adiknya yang sedang patah hati karena cinta! Hingga betapa Maxi teramat mencintai keluarganya dengan berusaha melindungi kakaknya Boy yang tengah terlibat kasus pembunuhan! Whew…
Orang kecil, yang ternyata juga tetaplah manusia normal (seperti layaknya para pejabat kaya yang korup) yang memiliki kerakusan duniawi dan ketidakpuasan hidup. Argumentasi yang dibuat oleh ayah Maxi seolah merupakan excuse untuk menerima dengan mafhum dasar mereka memilih jalan singkat pencuri. Bekerja sebagai buruh pabrik tak akan pernah bisa meningkatkan taraf hidup keluarga. Yang ada adalah semakin kekurangan dan keterpurukan. Kondisi kesehatan semakin memburuk, tapi tak mampu pergi ke rumah sakit dan akhirnya mati sia-sia. Ayah tak ingin kehilangan lagi satu pun dari anggota keluarga kita. Ungkap ayah Maxi.
Dan ironis sekali, justru ternyata ayah Maxi lah yang terpaksa pergi meninggalkan keluarga.
Sedang Victor, sosok polisi yang semula dianggap lebih dewasa dan lebih bijak ketika mencoba menasehati Maxi untuk selalu melakukan apapun di jalan halal dan atas nama kebajikan ternyata hanyalah menjadi sebuah paradoks ketika ia dibuat tak berkutik melihat atasannya sendiri membunuh ayah Maxi hanya karena didasari oleh dendam pribadi masa lalu. Bahkan yang lebih ironis, peristiwa itu seolah ditutup begitu saja mungkin karena hal itu dilakukan oleh atasan kepolisian.
Kala kebenaran dan keadilan diteriakkan dengan sedemikian lantangnya, namun sang pembawa kebenaran justru melakukan kejahatan dengan menunggangi bendera kepolisian.
Related articles :
Ratings :



Posted in 
I trust Lord
Jesus Christ bless all my IT activities, and services to
Him.

:: Sitemap ::





content rss
Recent Comments