Humor Marga Batak
November 19, 2007
Tidak bermaksud untuk menghina satu suku tertentu…just joke..Horas…
Pada jaman dahulu kala, hiduplah serorang pendekar wanita, Butet namanya. Sebelum lulus dari Pandapotan silat, ia harus menempuh ujian Nasution. Agar bisa berkonsentrasi, dia memutuskan untuk menyepi ke gunung dan berlatih.
Saat di perjalanan, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu setempat.
Beberapa pemuda tanggung yang lagi nonton sabung ayam sambil Toruan, langsung Hutasoit-soit melihat Butet yang seksi dan Hotma itu. Tapi Butet tidak peduli, dia jalan Sitorus memasuki rumah makan tanpa menanggapi, meskipun sebagai perempuan yang ramah tapi ia tak gampang Hutagaol dengan sembarang orang.
Naibaho ikan gurame yang dibakar Sitanggang dengan Batubara membutanya semakin berselera. Apalagi diberi sambal terasi dan Nababan yang hijau segar. Setelah mengisi perut, Butet melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan ke sana berbukit-bukit. Kadang Nainggolan, kadang Manurung. Di tepi jalan dilihatnya banyak Pohan, kebanyakan Pohan Tanjung. Beberapa diantaranya ada yang Simatupang diterjang badai semalam.
Begitu sampai di atas gunung, Butet berujar "Wow, Siregar sekali hawanya"
katanya, berbeda dengan kampungnya yang Pangabean. Hembusan Perangin-angin pun sepoi-sepoi menyejukkan, sambil diiringi Riama musik dari mulutnya. Sejauh Simarmata memandang warna hijau semuanya.
Tidak ada tanah yang Girsang, semuanya Singarimbun. Tampak di seberang, lautan ikan Lumban-lumban. Terbawa suasana, mulanya Butet ingin berenang. Tetapi yang diketemukannya hanyalah bekas kolam Siringo-ringo yang akan di Hutahuruk dengan Tambunan tanah. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir hutan saja, yang suasananya asri, meskipun nggak ada Tiurma melambai kayak di pantai.
Sedang asik-asiknya menikmati keindahan alam, tiba-tiba dia dikejutkan oleh ular yang sangat besar. "Sinaga!" teriaknya ketakutan sambil lari Sitanggang-langgang. Celakanya, dia malah terpeleset dari Tobing sehingga bibirnya Sihombing. Karuan Butet menangis Marpaung-paung lantaran kesakitan. Tetapi dia lantas ingat, bahwa sebagai pendekar pantang untuk menangis. Dia harus Togar. Maka, dengan menguat-nguatkan diri, dia pergi ke tabib setempat untuk melakukan pengobatan.
Tabib tergopoh-gopoh Simangunsong di pintu untuk menolongnya. Tabib bilang, bibirnya harus di-Panjaitan.
"Hm, biayanya Pangaribuan" kata sang tabib setelah memeriksa sejenak.
"itu terlalu mahal. Bagaimana kalau Napitupulu saja?" tawar si Butet.
"Napitupulu terlalu murah. Pandapotan saya kan kecil".
"Jangan begitulah. Masa’ tidak Siahaan melihat bibir saya Sihombing begini? Apa saya mesti Sihotang, bayar belakangan? Nggak mau kan?" "Baiklah, tapi pakai jarum Sitompul saja" sahut sang mantri agak kesel. "Cepatlah! Aku sudah hampir Munthe. Saragih sedikit nggak apa-apalah".
Malamnya, ketika sedang asik-asiknya berlatih sambil makan kue Lubis kegemarannya, sayup-sayup dia mendengar lolongan Rajagukguk. Dia Bonar-bonar ketakutan. Apalagi ketika mendengar suara disemak-semak tiba-tiba berbunyi "Poltak!" keras sekali.
"Ada Sitomorang?" tanya Butet sambil memegang tongkat seperti stik Gultom erat-erat untuk menghadapi Sagala kemungkinan
Terdengar suara pelan, "Situmeang". "Sialan, cuma kucing." desahnya lega. Padahal dia sudah sempat berpikir yang Silaen-laen. Selesai berlatih, Butet pun istirahat. Terkenang dia akan kisah orang tentang Hutabarat di bawah Tobing pada jaman dulu dimana ada Simamora, gajah Purba yang berbulu lebat. Keesok harinya, Butet kembali ke Pandapotan silatnya. Di depan ruangan ujian dia membaca tulisan: "Harahap tenang! Ada ujian.
"Wah telat, emang udah jam Silaban sih". Maka Siboru-boru dia masuk ke ruangan sambil bernyanyi-nyanyi. Di-Tigor-lah dia sama gurunya "Butet, kau jangan ribut!, bikin kacau konsentrasi temanmu!"
Butet, tanpa Malau-malau langsung Sijabat tangan gurunya, "Nggak Pakpahan guru, sekali-sekali?!"
Akhirnya, luluslah Butet dan menjadi orang yang disegani karena mengikuti wejengan guru Pandapotan silatnya untuk selalu,
"Simanjuntak gentar, Sinambela yang benar!
Related articles :
Ratings :


Posted in 
I trust Lord
Jesus Christ bless all my IT activities, and services to
Him.
:: Sitemap ::
content rss
June 11th, 2010 at 7:05 am
Saya ingin mengmentari pembedaan Saragi dengan Saragi(h) yang katanya satu Toba dan satu lagi Simalungun, saya himbau kepada siapapun diluar keluarga besar Saragi dan atau Saragih agar waspada dan hati hati. Kami Saragi atau Saragih berasal dari oppung yang sama, jangan dibeda bdakan, ini dahulu merupakan bagian politik devide et impera Belanda untuk memecah belah bangsa kita. Terbukti bahwa rumah saudara kandung dari Saragitua yaitu Tambatua di Negeri Tamba dibakar oleh Belanda dan bodil surungan milik Oppu Tambatua disita belanda dan kini tersimpan di Museum di Jln. Merdeka Barat Jakarta. Jadi sekali lagi jangan memecah belah kami keluarga besar PARNA Raya. Kepada seluruh keluarga besar Parna Raya khususnya keluarga besar Saragih dan atau Saragi, sadarlah bahwa anda semua keturunan Oppu Saragitua, jadi tidak perlu dibedabedakan hanya karena sub etnis Toba atau Simalungun. Horas
[Reply]
maradin_rumahorbo Reply:
June 11th, 2010 at 7:45 am
ok horas
[Reply]
April 13th, 2010 at 10:25 pm
Macem2 saza kau ne dongan,,, tapi menarik juga,,, ^_6
[Reply]
January 13th, 2010 at 1:59 pm
kog tak ada marga sibataninya? harutnya kan sibarani melawan semua musuh, gitulah…. n_n
[Reply]
December 14th, 2009 at 9:24 am
nyambung juga marga btk dibuat cerita humor……..’
[Reply]
October 22nd, 2009 at 2:18 am
horas…. jadi pingin pulang bakkara ni !!
[Reply]
October 8th, 2009 at 3:20 pm
seru juga ya ceritanya,tapi masih kurang panjang harusnya biasa ditambah “bangun pagi dilihat cuacanya situmorang gitu lhoo he..he..he
[Reply]
August 5th, 2009 at 10:04 am
Senangnya aku bc rumor ini. Disini disinggung margaku siahaan. Dimana 9ahan itu brhati mulia, slalu kasihan kpd stiap org yg membutuhkan. Betul tdk ? Cocok kam rasa ? Hehehe.
[Reply]
May 5th, 2009 at 3:16 pm
porsea miZZ u
[Reply]
January 12th, 2009 at 6:45 pm
wah…aku jadi tambah kangen siantar ni, aku di malaysia dan sudah menetap di sini sejak 1980, jadi kalo pulang kampung di siantar terubat kangen, ni lagi baca2 lawakannya bikin senyum sendiri.tapi aku orang jawa, tapi ya namanya jawa kelahiran sidamanik, ya sudah nggak rupa jawa lah…ok lah, thanks dah menghibur dengan lawakannya, walau ada beberapa yang kurang faham.but it’s ala right lah…horas bah….i love batak!!!
[Reply]
August 8th, 2008 at 11:58 am
kok kurang menggelitik humornya sih.. tlong buat yang lebih seru lagi..
[Reply]